AkhlakFikih

Bagaimana Cara Taubat Dari Maksiat di Masa Lalu?

Tanya:
Assalamualaikum pak ustadz, mohon maaf tolong ditutupi identitas saya karna ini merupakan aib yang sangat besar

Jadi begini pak ustad, saya memiliki seorang teman. dia datang kepada saya untuk meminta tolong dicarikan solusi atas permasalahannya. dulunya sejak awal baligh dia adalah seorang yang tidak taat pada agama, hampir tidak pernah sholat. bahkan mohon maaf pak ustad, dia juga sering melakukan perbuatan cabul pada anak2 kecil yang masih jauh dari usia baligh, dia mencabuli anak2 itu dengan (mohon maaf) menggesekkan kemaluannya pada korban namun tidak terjadi penetrasi. dia melakukannya selama bertahun-tahun sampai terakhir kali saat dia berumur 19 tahun sejak awal2 dia baligh. namun anak2 yang menjadi korbannya tidak pernah mengerti dengan apa yang dia lakukan. namun sekarang ini dia merasa sangat bersalah dan merasa dirinya sangat terhina, dia telah berniat untuk bertaubat kepada Allah namun tidak tahu apa yang harus dilakukan. nahh yang ingin saya tanyakan pak ustad:

1. Bagaimana caranya untuk dia bertaubat?

2. Apakah dia harus mengakui perbuatan buruknya kepada anak2 yang menjadi korbannya dan pada orang tuanya?

3. Apakah dia harus menerima hukuman sesuai hukum yang berlaku? (kebiri + penjara)

4. Apakah ada kemungkinan anak2 tersebut terkena suatu dampak akibat perbuatannya? Walaupun dari yang terlihat tidak ada sesuatu yang terjadi pada pada korban dan bahkan tidak mengalami trauma. Namun jika ada harus bagaimana teman saya ini mempertanggung jawabkannya?

5. Untuk sholat yang pernah dia tinggalkan di masa lalu, haruskah dia mengqodho sholatnya?

Demikian pak ustad, saya mohon solusinya.

Jawab:
Wa’alaikum salam

Jika seseorang melakukan maksiat, maka segeralah bertaubat dan berjanji tidak mengulangi lagi dan perbanyaklah baca istighfar. Allah maha penerima taubat dan rahmat Allah sangat luas. Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Juga firman Allah berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Perbanyak lah baca istighfar karena Allah suka orang yang banyak istigfar. Firman Allah:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Tidaklah Allah mengadzab mereka sedang engkau berada di tengah-tengah mereka. Dan tidaklah Allah mengadzab mereka, sedangkan mereka dalam keadaan beristighfar.” (QS. Al-Anfal: 33)

Allah juga berfirman:

وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّيُؤْتِ كُلَّ ذِيْ فَضْلٍ فَضْلَهٗ ۗوَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيْرٍ

Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (Kiamat). [Hud (11) : 3]

Sering-sering pula baca doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Allahumma inni dhalamtu nafsi dhulman katsira, wala yaghfirudz dzunuba illa anta, faghfirlii maghfiratan min indik, warhamnii innaka antal ghafurur rahiim. 

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah dhalim kepada diriku dengan kedhaliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Karena kesalahan yang bersangkutan terkait dengan kehormatan diri, maka hendaklah ia tidak menceritakan kepada siapapun. Tutuplah aibnya serapat rapatnya. Ia tidak perlu melaporkan diri ke polisi. Ia pun tak perlu meminta maaf kepada korban. Ia hanya butuh taubat nasuha, taubat sungguh-sungguh agar tidak mengulangi. Perbuatan zina dan yang mendekati zina, dilarang untuk diceritakan kepada siapapun dan ia harus bertaubat. Hal ini sesuai dengan hadis berikut:

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik) 

Adapun shalat yang telah ditinggalkan, perkirakan berapa waktu shalat yang telah ditinggalkan dan lakukan qadha. Karena menurut para ulama, shalat yang ditinggalkan harus diganti dan tidak cukup sekadar bertaubat. Wallahu a’lam.

(Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M)

Infak untuk pengembangan aplikasi Tanya Jawab Agama: Bank BNI Syariah No. Rekening 0506685897 a.n Muhamad Muflih.

Wakaf untuk pembangunan Pesantren Almuflihun: Bank BNI No. Rekening 0425335810 a.n Yayasan Al Muflihun Temanggung.

Konfirmasi transfer +628981649868 (SMS/WA)

Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close