Fikih

Khutbah Jum’at dengan Bahasa Daerah

Pertanyaan:

Salam. Ust mau Tanya, hukum khutbah dengan bahasa daerah, apakah boleh?

 

Jawaban:

Waalaikum salam. Inti dari khutbah adalah menyampaikan ilmu pengetahuan dan nasihat kepada jamaah. Jika jamaah semuanya paham bahasa Arab, tidak ada masalah menyampaikan khutbah menggunakan bahasa Arab. Namun jika jama’ah tidak ada yang bisa berbahasa Arab, maka baiknya menyampaikan khubtah dengan bahasa yang bisa dipahami oleh jama’ah.

Dalilnya sebagai berikut:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٤

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ibrahim: 4)

Ayat di atas menerangkan bahwa setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya atau bahasa daerahnya. Karena dengan ini, risalah kenabian akan dapat dipahami oleh mereka. Khutbah jumah adalah bagian dari upaya menyampaikan risalah kenabian ini, dan ia tidak akan dapat dipahami kecuali dengan bahasa jamaah. Jika demikian, maka menggunakan bahawa jama’ah dalam berdakwah dan berkhutbah dibolehkan, bahkan dianjurkan.

Hadis berikut:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتٍ مِنْ كِتَابِ يَهُودَ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي قَالَ فَمَا مَرَّ بِي نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَوَاهُ الْأَعْمَشُ عَنْ ثَابِتِ بْنِ عُبَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ.

Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Hujrin. Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin  Abi Al Zinaadi. Dari bapaknya. Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit.

Dari bapaknya Zaid bin Tsabit, beliau berkata : Rasulullah memerintahkan agar aku mempelajari kalimat-kalimat dari surat orang Yahudi untuk beliau.

Zaid berkata : Demi Allah, aku tak percaya Yahudi atas suratku. Zaid berkata; Setengah bulan berlalu hingga aku dapat menguasainya untuk beliau. Saat aku mengusainya, apabila beliau hendak mengirim surat kepada orang-orang Yahudi, aku menulisnya kepada mereka & apabila mereka mengirim surat kepada beliau, maka aku membacakan surat mereka untuk beliau. (HR. Abu Daud)

Hadis ini menunjukkan bahwa rasul memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk belajar bahasa Ibrani. Dengan demikian, jika ada surat dari mereka, Zaid bisa menerjemahkan kepada Rasulullah. Demikian juga jika ingin menulis surat kepada orang Yahudi, Zaid bisa menuliskannya dengan bahasa Ibrani. Tujuannya agar apa yang ingin disampaikan Rasulullah saw kepada mereka dapat tersampaikan.

Khutbah jum’ah, tujuannya juga agar risalah kenabian dapat sampai kepada jama’ah dan ini hanya bisa dilakukan dengan menyesuaikan bahasa jama’ah.  

Wallahu a’lam

(Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M)

=======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close