Fikih

Berzikir dengan Lafal “Huhuhu…”

Tanya:
Assalamualaikum Ustadz saya mau bertanya tentang hukum zikir Hu Hu Hu …

Atas perhatiannya terima kasih. (Yoe Himam, Bolaang Mongondow)

Jawab:
Wa’alaikum salam.
Terkait dzikir dengan menggunakan lafal hu saja, itu sangat bergantung kepada niat. Hal ini sesuai dengan sabda nabi Muhammad saw:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Jika yang diniatkan hu adalah huwallah, artinya ia adalah dhamir hu, tentu boleh saja. Hanya syaratnya ia harus niat dan hati tidak lalai. Hal ini karena dalam al-Quran, Allah juga menggunakan lafal Hua (dhamir), ketika menyebutkan tentanga kebesaran-Nysa seperti firman Allah berikut:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tiada yang berhak disembah melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tiada yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (ali imran :18)

وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan Dia berkuasa atas sekala sesuatu

Hal ini, karena lafal hu sangat samar. Ketika rapat dan ada orang yang presentasi sementara anggota lain tidak mau dengar, atau tidak suka, sering para anggota mengungkapkan kata, “Huuuuuu”.
Orang-orang primitif ketika membuat ritual keagamaan, juga menggunakan kata “Hu…hu..hu”. ketika orang bersorak sorai, juga kadang menggunakan kata “Huuu”. Jadi Hu ini sangat samar sekali.

Maka yang kita gunakan adalah kaedah ushul berikut:

العبرة بالمعاني لا بالمباني

Prinsipnya pada makna lafal, bukan struktur lafal tersebut.

Tentu ini berbeda dengan dzikir-dzikir yang tidak samar dan jelas lafalnya, seperti ungkapan tasbih dan tahmid. Hal ini disebutkan dalam sabda nabi berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Artinya: Ada dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai Allah yang Maha Rahman, yaitu Subhaanallahul ‘azhiim dan Subhanallah wabihamdihi.” (HR. Bukhari)

Jika pun seseorang mengucapkan lafal dzikir tasbih dan tahmid, sementara hati lalai, ia tetap mendapatkan pahala dengan sandaran hadis di atas. Jadi, baiknya berdzikirlah dengan lafal-lafal yang tidak samar agar tidak melenceng dari tujuan. Wallahu a’lam.


Bagi yang hendak wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun yang diasuh oleh Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +20112000489


 

Ingin bertanya? Kirim Pertanyaan

 

Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga

Close
Back to top button
Close
Close