AkidahFikih

Bisikan-bisikan Aneh dalam Hati

Tanya:
“Assalamualaikum wr.wb”
Saya Dani dari kota Depok, usia saya 28 Tahun, saya mau bertanya selama 10 Tahun terakhir ini saya sering mengalami gangguan bisikan-bisikan aneh di dalam hati yang tidak pantas kalau di ucapkan, saya terasa ada yang mengganggu dalam hati dan pikiran saya, dan bisikan-bisikan itu selalu muncul dihati saya, bahkan ketika sedang Sholat pun bisikan-bisikan itu selalu hadir dalam hati, sekalipun tanpa saya sadari dan itu diluar kuasa saya, dan saya tidak bisa menahannya untuk tidak keluar, mungkin kalau diucapkan secara lisan saya bisa menahannya untuk tidak keluar, tetapi untuk bisikan-bisikan dalam hati ini dibatas kesadaran saya, dia selalu hadir dengan sendirinya, saya takut apakah itu termasuk dosa saya sedangkan saya tidak merasa mengeluarkan bisikan-bisikan itu dalam hati saya, mungkin kalau diucapkan orang yang sadar kata-kata bisikan itu mungkin bisa lebih besar dari dosa syirik, saya takut setiap berdo’a saya selalu menangis apakah nanti saya harus menanggung dosa ini, sedangkan saya tidak merasa melakukannya, tetapi tetap saja bisikan itu selalu muncul di hati saya dengan sendirinya (diluar kuasa saya), terkadang saya merasa iri dengan orang lain mengapa harus diri saya yang dapat hal seperti ini kenapa tidak orang lain saja, untuk hal seperti ini bagaimna saya menyikapinnya, terima kasih.

Assalamualaikum wr.wb (M Ramdani – Kota Depok)

Jawab:
Wa’alaikum salam

Bisikan buruk dalam hati adalah bisikan setan. Kita diperintahkan oleh Allah untuk berlindung dari bisikan setan ini. Hadis berikut:

يأتي الشيطان أحدكم فيقول من خلق كذا ؟ من خلق كذا ؟ حتى يقول من خلق ربك؟ ! فإذا بلغه فليستعذ بالله ولينته

“Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian, lalu dia akan bertanya, ‘siapa yang menciptakan ini, siapa yang menciptakan itu?”

Hingga akhirnya dia bertanya, “Siapa yang menciptakan tuhanmu?”

Jika sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaknya dia berlindung kepada Allah (berta’awwudz) dan berhenti (tidak meneruskan). (HR. Bukhari)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

مَلِكِ ٱلنَّاسِ

Raja manusia

. إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ

Sembahan manusia.

مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

Dari (golongan) jin dan manusia.

Maka sering-seringlah baca surat An-Nas, Al-Falaq dan Al-Ikhlas. Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku agar membaca surat Al-Mu’awwidzat (Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas) setiap selesai menunaikan shalat.” (Sahih; H.R. Abu Daud, no. 1523; Shahih Sunan Abi Daud, no. 1348)

Selama bisikan dalam hati itu tidak diyakini dan tidak keluar dari mulut, maka bisikan hati tadi tidak membawa dosa. Dalilnya sebagai berikut:

يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Wallahu a’lam bishawab.

(Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M.)

Komentari
Tag

Materi terkait

Back to top button
Close
Close