FikihAkhlak

Bolehkah Menceraikan Istri yang Sering Mengeluh?

Tanya:
Asalammualaikum wr. wb
Saya ingin bertanya mengenai problematika rumah tangga yang saya alami berharap bisa mendapatkan pandangan atau pencerahan dari masalah yang saya alami. Apakah boleh menceraikan istri yang kurang bersyukur dan selalu mengeluh akan usaha suami untuk menghidupi keluarga. Hingga di suatu titik saya memberikan pilihan kepada istri saya untuk menyudahi pernikahan ini karna dia selalu mengeluh dan tidak menghargai usaha saya hingga saya selalu terbawa emosi. Baiknya saya harus bagaimana ya? Sebenernya saya masih ingin pernikahan saya baik2 saja tapi disisi lain ujian terberatnya saya tidak sanggup dengan perlakuan istri saya yang tidak bisa menghargai saya. Sering menentang saya, sering menghina saya, hingga terkadang saya terbawa emosi. (Muhammad Musa Mustakim – Subang)

Jawab:
Wa’alaikum salam

Yang harus digarisbawahi adalah bahwa ketika perempuan menikah, yang jadi ketua rumah tangga adalah suami. Allah Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya.” [An-Nisaa’ : 34]

Jadi, suami menjadi pemimpin keluarga, di antara sebabnya adalah bahwa laki-laki biasa menggunakan logika dan bukan emosi. Selain itu, suami yang wajib menanggung nafkah.

Seorang istri, semestinya selalu taat kepada suami selama dalam kebaikan. Maka jaminan istri yang seperti itu adalah surga. Hal ini sebagaimana hadis berikut:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” [HR. Tirmidzi)

Juga hadis berikut:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” [HR. Ibnu Hibban)

Juga hadis berikut:

وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا؛ اَلَّتِي إِذَا غَضِبَ جَائَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِيْ يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

“Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha.’” (HR. Thabrani).

Karena istri yang menggunakan emosi itu, maka ia mudah labil. Istri juga akan selalu meminta untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang secara terus menerus.

Terkait nafkah, tentu anda lebih paham dengan kebutuhan anda. Maka komunikasikan dengan istri anda bahwa mencari nafkah bukan perkara mudah. Mencari nafkah bagi suami adalah mendapat pahala yang sangat besar.

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Artinya: “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).

Juga sabda Nabi berikut:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Artinya: “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56).

Komunikasi ini penting, karena memang tabiat wanita itu mudah kufur nikmat atau tidak mensyukuri terhadap apa yang diberikan suami kepadanya. oleh sebab ini, banyak wanita yang masuk neraka.

Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat melakukan sholat gerhana matahari dengan sangat panjang, beliau melihat surga dan neraka. Saat melihat neraka, beliau bersabda:

ورَأَيْتُ أكْثَرَ أهْلِهَا النِّسَاءَ قالوا: لِمَ يا رَسولَ اللَّهِ؟ قالَ: بكُفْرِهِنَّ قيلَ: يَكْفُرْنَ باللَّهِ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Tidak pernah aku melihat pemandangan seperti itu sebelumnya. Aku melihat kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita.” Sahabat bertanya, ”Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Karena kekufuran mereka.”

Kemudian para sahabat bertanya lagi, ”Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, ”Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang, kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai), niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu’.” (HR Bukhari).

Dengan komunikasi yang baik, insya Allah istri akan memahami. Anda juga harus selalu bersabar dalam menghadapi istri anda. Dengan kesabaran dan kasih sayang, hati istri akan mudah luluh.

Apakah harus diceraikan? Tentu saja tidak, Jika anda cerai, lalu Anda menikah lagi, belum tentu juga anda akan mendapatkan wanita yang baik seperti yang Anda bayangkan. Kehidupan rumah tangga itu memang berliku, dan Anda sebagai pemimpin dituntut untuk bersabar. Jika wanita mengeluh, dengarkan dengan baik. Jika istri marah, tidak usah ikut marah. Dengarkan dengan baik. Karena meski wanita marah kepada suami, ia tetap akan memasak untuk Anda, mencuci baju Anda dan merawat anak-anak Anda.

Lihatlah sisi positifnya dan jangan lihat sisi negatifnya. Semua manusia punya kelemahan, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Bisa jadi kita membenci sesuatu, padahal di balik itu banyak kelebihan yang allah berikan untuk kita. Firman Allah mengingatkan supaya suami bersabar dengan istrinya, sebagaimana berikut:

فَاِنۡ كَرِهۡتُمُوۡهُنَّ فَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡــًٔـا وَّيَجۡعَلَ اللّٰهُ فِيۡهِ خَيۡرًا كَثِيۡرًا

“Jika kamu tidak menyukai mereka (para istri), (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An-Nisa: 19)

Semoga anda bahagia dunia akhirat. Amin.

(Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M)

Infak untuk pengembangan website dan aplikasi Tanya Jawab Agama: Bank BNI Syariah No. Rekening 0506685897 a.n Muhamad Muflih.

Wakaf untuk pembangunan Pesantren Almuflihun: Bank BNI No. Rekening 0425335810 a.n Yayasan Al Muflihun Temanggung.

Konfirmasi transfer +628981649868 (SMS/WA) atau ke +201000304569 (WA)

Komentari

Tag

Materi terkait

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker