Fikih

Kenapa Khutbah Jumat Dilakukan Sebelum Shalat?

Jamaah D1: Ustadz kenapa khutbah Jum’at dilakukan sebelum shalat? Akan tetapi pada shalat Ied, khutbah dilakukan setelah shalat?

Jawaban :

Dulu khutbah Jum’at dilakukan setelah shalat Jum’at seperti halnya shalat Ied. Pada suatu hari, selagi dilaksanakan shalat Jum’at, datanglah kafilah dagang. Jamaah Jum’at akhirnya bubar. Mereka berburu dagangan, baik untuk dijual atau untuk kebutuhan sendiri. 

Terkait hal ini, terdapat riwayat Jabir disebutkan sebagai berikut:

 

بينما النبي صلى الله عليه وسلم يخطب يوم الجمعة قائما إذ قدمت عير فابتدرها أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى لم يبق إلا اثنا عشر رجلا أنا فيهم وأبو بكر وعمر فأنزل الله تعالى: وإذا رأوا تجارة أو لهوا إلى آخر السورة

 

Artinya: “Ketika Rasulullah Saw berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba datanglah rombongan unta (pembawa dagangan), maka cepat-cepatlah sahabat Rasulullah Saw mengunjunginya sehingga tidak tersisa lagi (sahabat yang mendengarkan khutbah) kecuali 12 orang. Yaitu saya (Jabir), Abu Bakar dan Umar termasuk mereka yang tinggal. Maka Allah Swt pun menurunkan ayat: “wa idzâ ra'au tijâratan au lahwan” sampai akhir surat.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Tirmidzi) 

 

Lalu turunlah ayat berikut ini: 

 

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ 

 

Artinya: “Dan apabila melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (QS. al-Jumuah: 11)

Selesai shalat, dipersilahkan untuk mencari karunia Allah, bahkan hamba Allah dianjurkan untuk bertebaran di muka Bumi, dengan menjalankan berbagai aktivitasnya masing-masing.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (9) فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (10)

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka Bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumuah: 9-10)

Setelah peristiwa itulah, khutbah diawalkan. Baru setelah usai khutbah, dijalankan shalat Jumat. Untuk Idul Fitri atau Idul Adha, waktu khutbah seperti semula tidak berubah. Jadi shalat terlebih dahulu kemudian khutbah. Wallahu a'lam

(Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M.)

Sumber: Fikih Praktis Anda Bertanya, Ustadz Menjawab
Bagi yang ingin memesan buku fisik, sila hubungi 0818266026.

===========

Bagi yang hendak wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +20112000489

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga

Close
Back to top button
Close
Close