AkhlakFikihPemikiran

Memaknai Kemerdekaan Secara Kontekstual

Tanya:

Bagaimana kita memaknai kemerdekaan yang kontekstual ustadz?

Jawab:

Mengisi kemerdekaan, dengan mengingat firman Allah berikut:

1. Merdeka dari apapun juga, dan hanya menghambakan diri kepada Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah, maknanya, tidak ada yang layak disembah dan didahulukan dalam berbagai urusan kehidupan selain hanya Allah semata. Segala aktivitas manusia, dia jalankan hanya untuk mencari ridha Allah semata. Beban hukum yang diterimanya, ia jalankan secara baik. Jika ia selalu mengingat tentang Tuhan dalam segala tindakan, maka tidak aka nada penyelewengan dalam kehidupan. Tidak aka nada korupsi, manipulasi, suap, menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan dan lain sebagainya. Ia selalu mengingat Allah Yang Maha Kuasa. Ia tidak menyembah jabatan dan harta benda. Ia menyadari bahwa amanat sebagai hamba Allah di muka bumi, tidaklah ringan. Bahkan langit bumi seisinya saja, tatkala ditawari beban amanat dari Allah, ia tidak mau menerimanya. Dan manusia yang menerima itu. Sayangnya kebanyakan manusia lalai dan zhalim.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. Al-Ahzab: 72)

2. Manusia kembali mengingat tugas utama sebagai makhluk Allah di muka bumi, yaitu menjadi wakil Tuhan, untuk membangun peradaban. Caranya, manusia bekerja sesuai dengan profesi masing-masing secara profesional dan amanah. Petani bersungguh-sungguh dalam bertani, demikian juga pedagang, nelayan, kontraktor, insinyur dan lain sebagainya. Jika setiap orang dapat bekerja sesuai dengan bidangnya secara profesional, maka akan terjadi keharmonisan dan kerjasama yang baik antar sesama manusia. Inilah maksud dari firman Allah berikut ini:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 30)

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”   (QS, Al-Baqarah: 30)

Pembangunan peradaban bisa jadi sifatnya personal, organisasi, atau pemerintahan. Muhammadiyah adalah teladan yang sangat baik. Ribuan amal usaha yang tersebar di seluruh Nusantara, adalah bentuk riil dalam mengamalkan ayat di atas, dalam upaya membangun peradaban manusia.

Tunduk kepada Allah dengan implementasi tauhid murni, serta memposisikan manusia sebagai khalifatullah, dua hal ini saja jika diamalkan secara baik, nissaya akan menjadikan manusia bebas merdeka dan mampu membangun peradaban manusia yang luar biasa. Inilah sesungguhnya perwujudan dari cita-cita mendasar, baldatun thayibatun wa rabbun ghafur  itu. Wallahu a’lam.

(Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc, M.M)


Bagi yang hendak wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun yang diasuh oleh Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +20112000489


Ingin bertanya? Kirim Pertanyaan

 

Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga

Close
Back to top button
Close
Close