Tafsir

Tafsir Surat Al-Ma`un Ayat 1-3

Ayat:

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ (1) فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ (3)

Terjemah:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1) Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, (2) dan tidak mendorong memberi makan orang miskin (3)

Penjelasan:

Ayat pertama ini berupa pertanyaan, siapakah yang benar-benar mendustakan agama? Tujuannya adalah untuk menarik telinga pendengar dan membuat penasaran pembaca.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa ayat ini turun saat Abu Sufyan didatangi anak yatim yang miskin meminta makanan, lalu dia memukulnya dengan tongkat. Padahal Abu Sufyan tiap minggu memotong dua ekor unta.

Muqotil mengatakan ayat ini turun kepada Al Ash bin Wa’il yang mendustakan hari kiamat dan selalu mendatangkan perbuatan perbuatan buruk. Al Mawardi mengatakan ayat ini turun kepada Abu Jahal. Diriwayatkan dia diwasiati untuk mengurus anak yatim namun saat anak yatim itu meminta hartanya maka Abu Jahal menolaknya.

Kata yukadzdzibu (يكذب) artinya adalah mendustakan atau mengingkari. Ia bisa berupa sikap batin, bisa pula berupa sikap lahir yang tampak dalam perbuatan. Kata ad din (الدين) secara bahasa bisa berarti agama, kepatuhan atau pembalasan. Dalam ayat ini, ad din sering diartikan agama. Namun ia juga berarti pembalasan karena seringkali Al Quran ketika menggandengkan yukaddzibu dengan ad din artinya adalah mendustakan hari pembalasan (kiamat).

Ayat kedua, kata dzalika (ذلك) digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang jauh. Dzalika di sini memberi kesan betapa jauhnya orang itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kata yadu’u (يدع) artinya mendorong dengan keras. Namun maknanya tak selalu dorongan fisik, namun juga mencakup segala penganiayaan dan gangguan. Kata Al Yatiim (اليتيم) secara bahasa berarti kesendirian. Secara istilah adalah anak yang belum baligh dan ditinggal wafat oleh ayahnya.

Ayat ketiga, kata yakhudldlu (يحض) artinya adalah menganjurkan. Kalaupun tidak memiliki apa-apa, seseorang dituntut minimal menjadi orang yang menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin.Kata tho’am (طعام) berarti makanan atau pangan. Ayat ini tidak menggunakan kata ith’am (إطعام) yang artinya memberi makan, agar setiap orang yang melakukannya tidak merasa dirinya telah memberi makan. Namun ia hanya memberikan makanan yang pada hakikatnya bukan miliknya melainkan hak orang-orang miskin itu.

Dua ayat yang menjelaskan karakter pendusta agama ini senada dengan firman-Nya:

كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ . وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, (QS. Al Fajr: 17-18)

(Ustadz Khaerul Anam, Lc., M.S.I.)

 

Infak untuk pengembangan aplikasi Tanya Jawab Agama: Bank BNI Syariah No. Rekening 0506685897 a.n Muhamad Muflih.

Wakaf untuk pembangunan Pesantren Almuflihun: Bank BNI No. Rekening 0425335810 a.n Yayasan Al Muflihun Temanggung.

Konfirmasi transfer +628981649868 (SMS/WA)

Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close