Fikih

Tentang Bendera Tauhid

Pertanyaan:
Mohon keterangan tentang bendera tauhid yang saat ini marak beredar. Apakah ada keterangan/hadis dari nabi tentang ciri2 bendera tauhid, jenis hurufnya dan sebagainya.

Jawaban:
Liwa dan rayah adalah dua istilah yang hampir mirip yaitu “bendera”. Jika kita membuka buku-buku sejarah Islam seperti Al-Kamil fi At-Tarikh atau al-Muqtabis Fi Tarikhi al-Andalus karya Ibnu Hayyan al-Andalusi, atau membuka kamus seperti lisan al-arab karya Ibnul Mundir, istilah liwa atau rayah dimaknai sebagai bendera yang digunakan oleh para panglima dalam pertempuran.

Liwa adalah bendera yang digunakan oleh pimpinan utama, sementara rayah adalah bendera yang dipimpin oleh pimpinan batalyon pasukan. Fungsi liwa dan rayah adalah sebagai penanda dalam setiap pertempuran. Liwa dan rayah juga menyimbulkan persatuan para tentara.

Rayah atau liwa, tidak hanya dimiliki umat Islam. Para musuh-musuh Islam juga mempunyai liwa dan rayah. Barangkali perbedaan terletak di warna, ukuran atau bahan. Namun prinsip dan tujuannya sama, bahwa ia sebagai penanda bagi para pasukan.

Ketika umat Islam mulai melakukan pertempuran, maka Rasulullah saw juga memberikan liwa dan rayah kepada pimpinan pasukan dan pimpinan batalyon pasukan. Contohnya adalah sewaktu perang badar maka liwa diberikan kepada rasulullah kepada Musab bin Umair. Sementara itu, untuk rayahnya kalangan Muhajirin (batalyon pasukan dari kaum muhajirin) dibwa oleh Ali bin Abi Thalib.

Dalam sejarah Rasulullah sendiri, rayah dan liwa juga digunakan para pimpinan militer ketika maju dalam medan pertempuran. Ketika fathul Makkah, umat Islam tetap membawa rayah dan liwa. Karena fathu Makkah sesungguhnya adalah “perang pamungkas” untuk menaklukkan Mekah. Oleh karena itu, Rasulullah saw dan para sahabat menyusun strategi perang “diam”, yaitu menyerang tanpa diketahui oleh pasukan musuh. Hampir saja, ada yang membocorkan pergerakan umat Islam kepada orang Quraisy, namun pelakunya dapat ditangkap dan diadili. Maka turunlah ayat berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَقَدۡ كَفَرُواْ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلۡحَقِّ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ أَن تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al Mumtahanah: 1)

Seluruh penduduk Mekah pun, ketakutan melihat tentara muslim yang sangat banyak. Pada akhirnya, penduduk Mekah menyerah tanpa syarat. Mekah dapat ditaklukkan oleh tentara muslim tanpa peperangan.

Rayah dan liwa, dalam sejarah Islam mengalami banyak perubahan. Zaman nabi, liwa berwarna putih sementara rayahnya berwarna hitam. Kemudian di dalamnya tertulis kalimat tauhid. Namun sekarang, rayahnya berwarna hitam, sementara liwanya berwarna putih. Jadi ini sangat kondisional.

Pada zaman bani Umayyah, seperti dalam kitab matsarul anaqah karya Qalaqsandi bahwa liwa dan rayah berwarna hijau. Pada zaman abbasiyah berwarna hitam. Bagian muka bertuliskan lailaha illallah sementara bagian belakang bertuliskan muhamamd rasulullah. Juga ada tambahan tulisan, yaitu وما نصر إلا من عند الله العزيز الحكيم. Kadang kala ada tambahan tulisan surat al-ikhlas. Atau bahkan kadang ada tambahan nama sang Khalifah.

Kesimpulannya bahwa rayah dan liwa bukanlah perkara yang sifatnya qat’iyat. Rayah dan liwa bisa berkembang mengikuti perkembangan zaman. Karena inti dari liwa dan rayah, adalah untuk menyatukan pasukan ketika mereka sedang berada dalam medan pertempuran.

Berikut ini terkait dalil-Dalil Al-Liwa dan  Ar-Rayah pada masa Rasulullash saw:
Hadis dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa beliau menyatakans ebagai berikut:

كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ

Artinya: “Bendera (Liwa) Rasulullah saw berwarna putih, dan panjinya (Rayah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, Al-Baghawi dan At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbas pernah menyatakan sebagai berikut::
كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْه ِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Artinya: “Panjinya Rasulullah saw berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.” (HR. Ath-Thabrani)

Jabir bin Abdullah ra menyatakan sebagai berikut:

أَنَّ النبي -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لِوَاؤُهُ يَوْمَ دَخَلَ مَكَّةَ أَبْيَضَ

Artinya: “Bahwa Nabi saw liwa’-nya pada hari penaklukkan Kota Mekkah berwarna putih.” (HR. Ibn Majah, Al-Hakim dan Ibn Hibban)

Dari Yunus bin Ubaid maula Muhammad bin Al-Qasim bahwa ia berkata: Muhammad bin Al-Qasim mengutusku kepada Al-Bara’ bin ‘Azib, aku bertanya tentang rayah Rasulullah saw seperti apakah? Maka Al-Bara’ bin ‘Azib menjawab sebagai berikut:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ

Artinya: “(Ar-Rayah) ia berwarna hitam, berbentuk persegi panjang terbuat dari kain wol.” (HR. At-Tirmidzi, Al-Baghawi, dan An-Nasa’i)

Dari Al-Hasan ra bahwa ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ تُسَمَّى الْعُقَابَ

Artinya: “Rayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam disebut Al-‘Uqab.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Wallahu a’lam.


Bagi yang hendak wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun yang diasuh oleh Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +20112000489


Ingin bertanya? Kirim Pertanyaan

Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close