Akidah

Apakah Takdir Bisa Diubah?

Tanya:
Assalamu’alaikum ustadz
1. Apakah takdir itu sifatnya tetap dan gak bisa diubah oleh sang pemilik takdir melalui ikhtiar dari manusia?
2. Apakah husnul khotimah atau suul khotimah pada manusia itu sudah ditetapkan?
Terima kasih ustadz. (Putro, Bangkalan)

Jawab:
Wa’alaikum salam

Takdir adalah kadar ketetapan Allah melalui ilmunya yang qadim atas segala sesuatu baik yang belum terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Sesuatu tersebut, karena terikat dengan ilmu Allah yang qadim dan tetap, maka ia tidak akan dapat diubah oleh siapapun. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut:

وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا “

…Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” [Al-Ahzab/33 :38]

Juga firman-Nya:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” [Al-Qamar/54 : 49]

Dan juga firman-Nya yang lain:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah kha-zanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” [Al-Hijr/15 : 21]

Juga firman-Nya:

إِلَىٰ قَدَرٍ مَعْلُومٍ فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ “

Sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” [Al-Mursalaat/77 : 22-23]

Juga firman-Nya yang lain:

ثُمَّ جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَا مُوسَىٰ

“…Kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa.” [Thaahaa/20 : 40]

Dan juga firman-Nya:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“…Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” [Al-Furqaan/25 : 2]

Husnul khatimah atau su’ul khatimah, terkait dengan kadar ketentuan yang terikat dengan ilmu Allah, tentu sudah diketahui oleh Allah dan tidak dapat berubah.

Hanya saja, manusia tidak mengetahui tentang apa yang akan terjadi. Masa depan adalah rahasia Allah. Selain itu, manusia diberi sifat “ingin” atau sifat memilih (al ikhtiyatiyyah). Dengan sifat ingin inilah, manusia dipersilahkan untuk berislam atau tidak, beriman atau kufur, besabar atau bersyukur. Kelak manusia akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah karena sifat ikhtiyatiyyah itu.

Firman Allah:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Juga firman Allah:

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Maka barangsiapa yang berkehendak, silahkan dia beriman. Dan barangsiapa berkehendak, silahkan dia kafir!” [QS. Al-Kahfi: 29]

Oleh karena itu, kita harus selalu berusaha keras agar menjadi orang yang bertakwa dan berdoa kepada Allah agar meninggal dalam keadaan Husnul khatimah. Walllahu a’lam.

(Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M)

Infak untuk pengembangan website dan aplikasi Tanya Jawab Agama: Bank BNI Syariah No. Rekening 0506685897 a.n Muhamad Muflih.

Wakaf untuk pembangunan Pesantren Almuflihun: Bank BNI No. Rekening 0425335810 a.n Yayasan Al Muflihun Temanggung.

Konfirmasi transfer +628981649868 (SMS/WA)

Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close