Pustaka

Antara Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, Ilmu Kalam dan Buya Hamka

Jika kita buka HPT Bab Iman, kita akan menemukan bahwa di awal kalimat disebutkan tentang kewajiban nazhar dan hudusnya alam. Dua kata itu memang terkait. Mazhar berhubungan dengan upaya manusia untuk berfikir tentang alam raya yang wujud (ada). Keberadaan sesuatu yang ada di alam fisik, akan mengantarkan manusia pada perenungan sesuatu yang ada, namun di alam metafisik.

Ada, tentu bermula dari tiada. Lalu ada, dan kelak akan tiada. Tidak mungkin sesuatu yang ada, wujud dengan sendirinya. Yang ada dari alam fisik, tentu ada yang mengadakan yang sifatnya tidak fisik. Ia tidak bermula. Ia selalu ada. Karena ia zhat yang mengadakan. Ialah wajibul wujud. Sementara alam yang muncul dari ketiadaan, ia adalah mumkinul wujud.

HPT menggunakan dalilul hudus, dengan melihat alam raya yang fana dan fisik, untuk membuktikan dzat yang maha ada yang sifatnya kekal dan metafisik. Jika kita buka kitab-kitab ilmu kalam, seperti al ibkar fi ilmi al kalam karya Imam Amidi, syarhul maqashid karya Imam Tiftazani, al mathalib al aliyah karya Imam ar Razi, syarhul al mawaqif karya Imam Jurjani, dan lain sebagainya, bab wujud masuk dalam bab pertama.

Mengapa demikian? Karena sebelum jauh mengkaji soal seluk belum alam metafisik yang kelak juga berimplikasi pada alam fisik, pada perjalanan manusia, rusul, alam kubur, hasyar, shirat hingga surga dan neraka, maka awal mula yang harus dikaji adalah sesuau yang ada dulu. Jika kita sudah percaya dengan yang ada, maka bahasan selanjutnya adalah soal sifat, eksistensi, lalu juga perjalanan dari yang mungkin ada itu. Termasuk soal rusul, kitab dan lain sebagainya.

Jika kita buka buku karya Buya Hamka dengan judul “Pelajaran Agama Islam” jilid 1, maka bab awal yang beliau bahas adalah bab “Ada”, atau dalam istilah ilmu kalam disebut dengan wujud. Sama halnya dengan apa yang tercantum di HPT dan kitab-kitab ilmu kalam, Buya Hamka mulai mengkaji soal nazhar dengan mengajak manusia merenungi hamparan alam raya yang ada, agar sampai pada zhat yang wajib ada.

Buya hamka juga menceritakan sejarah manusia dari masa manusia primitif, manusia penyembah hewan, matahari, bukan, bintang-bintang, roh, hingga muncul para filsuf Yunan sebelum Sokrates seperti Thales, Archimedes, Phitagoras dan lain sebagainya yang bicara soal awal muka yang ada. Para filsuf itu berdebat, apa sesungguhnya yang mula-mula ada, air, atau udara, uap, ataukah angka-angka.

Buya hamka juga bercerita, soal perkembangan filsafat yang dimulai dari Socrates, lalu Plato dan Arestoteles yang pada titik akhir mereka berkesimpukan bahwa yang mungkin ada, harus ada zhat yang maha ada, yang tidak bergerak dan hanya satu. Ialah illat dan sebab dari semua wujud. Ia adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Ternyata memang ada bahasan dan runutan kajian yang sama antara HPT, ilmu kalam dan buku pelajaran agama Islam karya Buya Hamka. Satu sama lain sama-sama memulai dengan kajian nazhar, lalu implikasi dari yang ada itu, seperti yang kami singgung di atas. Bedanya, HPT sangat ringkas dan berupa kata-kata kunci saja. Ia seperti sekadar penyebutan bab-bab dalam bahasan kalam. Sementara itu, buku-buku ilmu kalam lebih mendetail dan umumnya ditulis dengan bahasan debat untuk mencounter lawan, baik dari kalangan atheis, filsuf, kaum nasrani, Yahudi, sabai, atau bahkan sesama kelompok islam yang beda pandangan.

Sementara itu, Buya Hamka menggunakan bahasa prosa yang mendayu. Beliau menulis dengan bahasa halus dan mengajak kita untuk selalu merenungi kehidupan. Gaya-gaya sastra, lekat dengan bahasan dalam buku ini. Buku karya Profesor Hamka, sesungguhnya sangat filosofis dan banyak memuat bahasan kalam dan filsafat. Namun ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dan renyah sehingga dapat dipahami oleh siapapun juga.

Buku Prof Hamka, sesungguhnya semacam syarah dari HPT. Jika selama ini kita bingung dengan matan HPT yang sangat pendek, sesungguhnya turas Muhammadiyah memiliki pelajaran agama terkait dengan bahasan akidah yang sangat selaras dengan HPT. Buku ini bisa dijadikan sebagai diktat di sekolah atau pesantren Muhammadiyah. Ia menjadi daya dukung untuk dapat memahami matan HPT bab Iman yang selama lama ini jarang mendapatkan perhatian.

Kelak jika ingin jauh memperdalam lagi, bisa merujuk ke kitab-kitab babon dalam ilmu kalam seperti judul buku yang sudah saya sebutkan di atas.

Mari kita sosialisasikan buku yang luar biasa ini. Jadikan karya Turas dan pendahulu Muhammadiyah yang luar biasa ini, untuk membantu kita dalam memahami HPT. Wallahu a’lam.

===================
Bagi yang hendak wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun yang diasuh oleh Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +20112000489

Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close