Siroh

Fitnah Dalam Pembunuhan Utsman (Bagian 2)

Penulis: Indera Gunawan, Lc, M.A. (Kandidat Doktor Universitas Al-Azhar Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Anggota Majelis Tarjih PCIM Kairo)

 

3. Pemanfaatan isu sebagian kerabatnya yang diberi kepercayaan

  • Saat Umar meninggal yang menjadi gubernurnya adalah Mughirah bin Syu’bah di Kufah, Abu Musa al-Asy’ari di Bashrah, Muawiyah bin Abu Sufyan di Syam, dan Amru bin Ash dan Abdullah bin Saad di Mesir.
  • Walid bin Uqbah berasal dari Umawi, juga Said bin Ash. Abdullah bin Amir juga yang merupakan sepupu Utsman, lalu ada Abdullah bin Abi Sarh. Kemudian ada Muawiyah bin Abi Sufyan yang menguasai Yordan, Palestina, Homs, dan Damaskus, Haris bin Hakam sebagai Kepala Administrasi Madinah, dan terakhir Marwan bin Hakam, Sekretaris Utsman. Semuanya adalah Umawi.
  • Ini semua bukan aib atau tercela, yang tercela jika mereka melakukan korupsi dan sewenang-wenang. Ali telah menasehati Utsman untuk menjaga perasaan Muslimin, tapi Utsman tetap rela menanggung sendirian kesalahan kerabatnya.

 

4. Pemanfaatan dakwah Abu Dzar al-Ghifary 

  • Abu Dzar sahabat terhormat dan terkenal. Hidupnya penuh zuhud dan wara’. Ia mengajak orang-orang tentang kewajiban membagi harta kaum Muslimin, dan mengharamkan menimbun harta. Dakwah ini sesuai dengan pemahamannya. Tidak boleh bagi Mukmin memiliki harta lebih dari satu hari satu malam. Dan jika lebih, wajib menginfakkan fi sabilillah sesuai firman Allah. 
  • Orang-orang fakir banyak yang mendukung sementara yang lain terganggu dengan ulah Abu Dzar. Muawiyah yang di Syam akhirnya mengadu ke khalifah. Utsman lantas memanggil Abu Dzar ke Madinah, yang berakhir dengan keinginan Abu Dzar untuk mengasingkan diri ke Rabadzah, kampung di pinggir Madinah. Utsman kemudian membarinya 20 unta, bekal, beserta dua pelayan. Abu Dzar menetap di Rabadzah hingga wafatnya tahun 32 H. Siasat ini digunakan pemberontak dengan memfitnah kotornya politik Ustman.

 

5. Peran Abdullah bin Saba’

  • Dia adalah seorang Yahudi Yaman masuk Islam pada masa Utsman. Ibunya Sauda’, makanya dinamakan Abdullah bin Sauda’. Berkeliling kawasan Islam untuk menyebar fitnah dari Hijaz, Kufah, Bashrah, Syam, hingga Mesir dan menetap di sana.

 

Beberapa strateginya:

  • Menampakkan kecintaan pada ahli bait dan memperjuangkan pengembalian hak khilafah pada Ali. Karena Utsman dituduh merampas hak Ali. Setiap Nabi punya penerusnya, atau pelaksana wasiatnya. Dan Ali adalah wasiat nabi. Begitu juga ia mencela Abu Bakar dan Umar untuk memecah belah Muslimin.
  • Mengaburkan akidah umat. Adalah aneh jika mempercayai Isa akan kembali dan mengapa Muhammad tidak bisa kembali? Padahal seharusnya Muhammad yang lebih berhak kembali ke dunia.
  • Menyebar dusta dan fitnah atas nama sahabat dan mengirim surat ke belahan kawasan lain menjelek-jelekkan Utsman dan gubernur-gubernurnya.

 

Berita fitnah sampai ke ibukota Madinah

  • Masyarakat Madinah mendengar gonjang-ganjing dan menyampaikannya pada khalifah. Khalifah meminta saran penduduk Madinah, akhirnya dikirimlah sahabat pilihan ke masing-masing wilayah bergolak untuk melihat langsung duduk perkara di kota-kota tersebut.
  • Muhammad bin Maslamah ke Kufah, Usamah bin Zaid ke Bashrah, Abdullah bin Umar ke Syam, dan ‘Amar bin Yaser ke Mesir. Para sahabat kembali ke Madinah dan menegaskan bahwa para gubernur telah menjalankan tugas yang semestinya kecuali Sahabat Amar bin Yaser. Amar berhasil terbujuk oleh Abdullah bin Saba’ yang juga menetap di Mesir. Kemudian Utsman mengirim surat edaran kepada penduduk masing-masing kota, yang merasa terzhalimi, baik dipukul atau dicambuk agar menuntut langsung pada khalifah di Madinah. Khalifah bersedia menanggung siksa tuntutan tersebut. Ketika surat dibacakan, banyak kaum muslimin yang menangis haru. 

 

Muktamar gubernur dan pembantu Utsman di musim haji

  • Tak cukup mengirim utusan, Utsman bahkan meminta para gubernurnya hadir di Mekkah pada musim haji tahun 34 H, atau setahun sebelum terbunuhnya Utsman. Yang datang di antaranya: Abdullah bin Amir, Muawiyah bin Abi Sufyan, Abdullah bin Abi Sarh, Said bin Ash, dan Amru bin Ash. Mereka saling berdiskusi dan memusyawarahkan keadaan yang intinya para pemberontak harus dihadapi dengan tegas dan keras. Tapi Utsman tidak setuju, dan malah supaya berlaku lembut dan menegakkan hukum Allah. Muktamar bubar dan Utsman mengabaikan usulan gubernurnya.
  • Musim haji selesai, dan Muawiyah menemani Utsman kembali ke Madinah dari Mekkah dalam perjalanannya pulang ke Syam. Di tengah jalan Muawiyah membujuk agar Utsman sudi pergi bersamanya ke Damaskus dan menetap di sana. Utsman menolak karena tak ingin mengganti darul hijrah dengan kediaman yang lain, sebab itu sudah sunnah Rasulullah. Kemudian Muawiyah menawarinya untuk mengirim tentara tangguh dari Damaskus di kediaman khalifah untuk berjaga-jaga. Tetapi Utsman menolak sebab tak ingin kehadiran para tentara Syam mengusik kenyamanan para tetangga di Madinah dan sekitarnya, membuat mereka tak leluasa bergerak. Akhirnya Muawiyah pulang dengan menyimpan kekhawatiran yang tinggi atas keselamatan Ustman.

 

Pemberontak dan Utsman

  • Setelah Muktamar Umara selesai, para Sabaiyyun segera saling berkirim surat untuk keluar dari kota masing-masing (Bashrah, Kufah dan Mesir) menuju Madinah dan menuntut banyak perkara pada Utsman. Kemudian terjadilah dialog antara Utsman dan pemberontak. Baik tentang pemusnahan mushaf-mushaf, mendahulukan kerabat daripada pembesar Muhajirin dan Anshar, kasus Ubaillah bin Umar dan Abu Dzar, dll. Namun semua tudingan dijawab Utsman dengan baik hingga pemberontak itu tak berkutik. Utsman tetap memperlakukan mereka dengan santun dan baik. Akhirnya para pemberontak dibiarkan kembali ke daerahnya masing-masing. Utsman tak mau mendengar nasehat para sahabat agar pemberontak dihukum mati, atau ditawan di Madinah dengan pengawasan ketat hingga tak berbuat onar lagi, dan tidak dilepas begitu saja.
  • Setelah kembali ke daerah masing-masing, setahun setelahnya mereka sepakat mendatangi lagi Madinah pada Syawal 35 H, kali ini misinya untuk membunuh Utsman. Kedatangan mereka bertepatan pada musim haji agar tidak begitu kentara dan menyamar sebagai jamaah haji. Dari Mesir dipimpin al-Ghafiki bin Harb bersama Ibnu Saba’, gembong penggerak fitnah dengan rombongan antara enam ratus hingga seribuan orang. Dari Kufah dipimpin Amru bin al-Asham, dari Bashrah dipimpin Harqus bin Zuhair as-Sa’dy juga dengan jumlah rombongan tak jauh berbeda dari Mesir. Keinginan mereka berbeda. Bashrah ingin Khalifah diganti dengan Thalhah, Kufah ingin Zubair, dan Mesir ingin Ali.
  • Kemudian mereka membuat markas dekat Madinah, dan mengutus dua orang ke Madinah untuk mencari kabar apa warga madinah telah tahu kedatangan mereka atau belum. Diutuslah Ziyad bin an-Nadhr al-Haritsi dan Abdullah bin al-Asham untuk tugas itu. Mereka masuk Madinah dan minta izin supaya boleh masuk ke Madinah. Warga Madinah segera tahu bahwa mereka sedang dalam ancaman dan langsung menolak masuk mereka. Kemudian warga Madinah bersiap-siap melindungi Darul Hijrah kediaman khalifah. Kedua utusan kembali dan mengabarkan keadaan pada pimpinan pemberontak. Selanjutnya masing-masing kelompok mendatangi sahabat usungan mereka. Orang-orang Kufah ke Zubair, Mesir ke Ali, dan Bashrah ke Thalhah. Ketiga sahabat agung tersebut dengan keras menolak mereka untuk mengudeta Utsman. Akhirnya mereka sepakat untuk pulang ke daerah masing-masing.
  • Warga Madinah tadinya yakin mereka sudah kembali, namun alangkah terkejutnya ketika rupanya tiba-tiba terdengar sorakan pemberontak di sekeliling Madinah dan tengah mengepung Darul Hijrah. Tersebarlah ketakutan pada warga Madinah dan masing-masing berdiam diri berlindung di kediamannya kecuali Ali bin Abi Thalib yang menanyakan mengapa mereka kembali lagi. Rombongan Mesir bilang di tengah perjalanan pulang mereka mendapati surat khalifah berisi perintah membunuh mereka. Adapun rombongan Kufah dan Bashrah datang untuk menolong saudara mereka. Ali bilang bagaimana mungkin kalian bisa tahu padahal kalian telah dalam perjalanan pulang dan jarak kalian juga berlawanan arah dan bisa tiba di Madinah bersamaan. Kemudian Ali malah dicela dan diabaikan oleh mereka.

 

Misteri surat khalifah

  • Surat khalifah dipalsukan oleh Abdullah bin Saba’. Surat ditujukan pada gubernurnya di Mesir Abdullah bin Abi Sarh untuk membunuh para pemberontak Mesir yang kembali dari Madinah. Utusan pembawa surat tertangkap oleh pemberontak dan mereka mendatangi Utsman. Utsman bersumpah tak ada menulis surat, dan stempel khalifah ada yang memalsukan. Kemudian mereka menuntut diserahkan Marwan bin Hakam selaku Sekretaris Utsman, namun Utsman menolak. Kemudian mereka berkata, “Entah itu kau benar apa berdusta, Allah telah menghalalkan darahmu untuk kami tumpahkan.” Utsman tetap tak mau mundur sebagai khalifah dan berkata “La anji’u qamisan albasaniyahullahu ta’ala.” Kemudian para pemberontak membuat kerusuhan di Madinah.

 

Pengepungan khalifah

  • Utsman meminta pertolongan dari para gubernurnya dan kota-kota muslimin. Ketika pemberontak tahu semakin dekatnya bala bantuan, mereka semakin memperketat pengepungan dengan berbagai cara. Utsman dilarang salat di Masjid Nabawi, dan tidak dibolehkan masuk segala sesuatu ke rumah khalifah sampai air sekalipun agar Utsman mati kehausan. Begitu juga ketika Ali mendatangi mereka tetap tak dizinkan.
  • Tibalah musim haji tahun 35 H, dan khalifah punya kewajiban sebagai amirul haj. Utsman menaiki rumahnya dan memanggil Abdullah bin Abbas-yang ketika itu di gerbang pintu khalifah untuk melindunginya-agar menggantikannya sebagai amirul haj dan menulis surat untuk kaum muslimin memberitahu keadaannya. Ibnu Abbas lalumenggantikan khalifah sebagai amirul haj yang mana juga ikut dalam rombongannya Aisyah Ra. Ibnu Abbas membacakan surat Utsman pada kaum Muslimin namun keadaan di Madinah sudah begitu kacau dan pembunuhan Utsman tak terelakkan lagi.

 

Terbunuhnya Utsman

  • Ketika bantuan sudah makin dekat, para pemberontak makin menjadi-jadi. Mereka bersepakat membunuh Utsman agar orang-orang sibuk atas urusan Utsman dan melupakan mereka. Mereka mencoba mendobrak pintu utama rumah, namun tak bisa karena dihalangi sahabat Hasan bin Ali, Abdullah bin Zubair, Muhammad bin Thalhah, dan juga beberapa Bani Umayah. Tapi pemberontak yang melihat semakin terjepitnya posisi mereka lantas membakar pintu-pintu rumah dan beberapa dari mereka masuk rumah lewat pintu samping.
  • Utsman melihat keadaan semakin parah, dan bakal terjadi pertempuran antara pelindung khalifah dan pemberontak. Utsman lantas meminta para pelindungnya agar menjauh darinya supaya tak ada pertempuran. Saat itu Ghafiqi memukul utsman dengan potongan besi, kemudian dilanjutkan dengan tebasan pedang Saudan bin Hamran. Istri Utsman Nailah menangkis dengan tangannya, hingga terputuslah jari-jari Nailah. Selanjutnya, tusukan-tusukan segera menghujani tubuh Utsman yang sedang memeluk Kitabullah. Utsman terbunuh pada 18 Dzulhijjah tahun 35 H. Darah Ustman mengalir membasahi mushaf. Setelah itu para pemberontak menjarah isi rumah Utsman dan mendatangi baitul mal dan juga menjarah isinya. 
  • Usia Kekhalifahan Utsman 12 tahun kurang 12 hari. Utsman baru dikubur setelah tiga hari sejak wafatnya, atau di saat para pemberontak sedang lengah tanggal 21 Dzulhijjah. 
  • Pada hari terbunuhnya Utsman, ia bermimpi berjumpa Rasulullah Saw dan Rasul berkata, “Hai Utsman marilah berbuka bersama kami.” 
Tag

Materi terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close